Just another WordPress.com site

Tulisan ini sedianya diposting di blogku yang satu lagi, yang di telkom.us.  Tapi berhubung ada warning dari admin bahwa keberadaan site itu akan dievaluasi lagi, jadi kusimpan di sini dulu sementara sampai ada kejelasan lebih lanjut.

Aku ingin mendokumentasikan kesan-kesan selama mengawal program Pensiun Dini 2009 di kantorku, khususnya ketika aku ditunjuk menjadi konselor pada sesi konseling oleh KPDA HR Area VIII (Komite Pensiun Dini Area Divisi Non-Divre).  Penunjukan ini ada latar belakangnya, yaitu ketika seseorang iseng menulis namaku di panel pemilihan pengurus SEKAR di Musda Sekar Network Regional Jakarta 2008 sebagai Kabid Advokasi (pasti karena aku tidak hadir di musda).  Lalu anggota Bidang yang dipilih terdiri dari beberapa orang yang memiliki impossible attribute bagi calon ketuanya:

  1. secara hirarki struktur organisasi di unit kerja lebih tinggi (aku officer mereka manager!),
  2. usia yang jauh lebih tua (beda generasi gitu loh),  dan
  3. mereka (3 orang) semuanya laki-laki.

Setelah pemilihan disetujui secara kuorum, ini langsung menjadi masalah besar.   Akhirnya bidang Advokasi jarang bisa berkumpul untuk berdiskusi.   Ah, ini isu gender lagi.  Mungkin aku hanya masih belum cukup percaya diri dan belum cukup tega mendisposisi kepada ‘bawahan’-ku, yang secara hirarki struktural adalah bos-bosku.  Hihihi.

Whatever :P

Kepercayaan adalah amanah sodara-sodara,  jadi setiap ada issue yang memerlukan kehadiran bidang advokasi, sudah bisa ditebak siapa yang harus bekerja :P

Maka jadilah aku konselor mewakili Sekar.  Sesi konseling memang konselornya ada dua, satu dari HR dan satu dari Sekar.  Tujuannya untuk memastikan bahwa setiap peserta mengetahui hak-hak dan kewajibannya bila lolos sebagai pendiwan/pendiwati.  Tidak lupa mengingatkan kemungkinan bahwa tidak semua peserta bakal diloloskan dalam program ini, karena berapa orang yang diluluskan dan berapa budget yang tersedia masih rahasia saat itu.

Peserta yang dijaring di KPD HR VIII mencapai sekitar 250 orang.  Untuk mengejar target deadline waktu yang disediakan hingga 12 Februari,  untuk sesi konseling dibuat 4 tim konselor yang bekerja pada waktu yang bersamaan.  Tempatnya di Ruang Rapat Area Network  Gambir di Lt 2 Gedung B STO Gambir.   Makan waktu berhari-hari, seharian penuh.

Setiap konselee harus bisa menghadirkan pasangan masing-masing, dengan dilengkapi surat nikah.   Tak peduli mereka lagi sakit perut, jaga anak, sedang bekerja, dll.  Alasan yang bisa diterima bagi tidak dapat hadir bersama, hanyalah yang istri/suaminya sedang ada di luar kota selain Jabodetabek Bandung.  Itu pun harus disertai surat pernyataan ditandatangani di atas materai.   Setiap pasangan ikut ditanyai mengenai kemantapan hati mereka atas keputusan istri/suaminya yang menjadi karyawan TLKM.

Alasannya pasti bukan untuk mempersulit persyaratan :P

Kadang aku berpikir,  setelah membuat keputusan besar seperti mendaftar pensiun dini dari perusahaan sebesar TLKM, orang harus dibuat menempuh rintangan-rintangan dahulu.  Rintangan ini berfungsi agar orang dapat berpikir kembali atas keputusannya,  sehingga orang yang ragu-ragu akan mutung di tengah jalan, dan bagi yang mantap akan maju terus.  Yah mirip seperti mahasiswa tingkat akhir menghadapi TA lah.

Pada saat konseling aku menghadapi dilema lagi.   Aku harus menanyai kesiapan mereka menjalani pensiun.  Apa rencana-rencana mereka.  Bagaimana cara mereka mendapat penghasilan untuk keluarga pengganti gaji yang selama ini mereka dapat sebagai karyawan, terutama bila konselee masih memiliki tanggungan anak yang masih bersekolah.    Dilemanya, karena konselee rata-rata sudah senior,  yang secara usia harusnya (idealnya) sudah lebih berpengalaman, lebih matang, lebih bijak dst dst lah.  Tapi kenyataannya tidak.  Karena ada konselee yang memutuskan ikut pendi lebih karena emosi ketidakberdayaan mengikuti perkembangan teknologi, merasa kalah dari karyawan generasi muda, belum memiliki pengalaman berwirausaha, dan parahnya lagi ada yang berencana menggunakan uang pendi untuk menutup hutang.

Tsk tsk tsk.

Secara bagiku pribadi, makin banyak yang daftar pendi makin bagus  (dalam kepalaku, aku sedang menancapkan stempel Approve -Approve –  Approve  pada setiap berkas yang masuk hehe).  Supaya perusahaan ini bisa bergerak lebih lincah lagi.  Tidak ada lagi karyawan yang tidak termotivasi bekerja lagi (demotivasi bekerja mirip virus).  Beban SDM bisa ditekan lebih rendah lagi. Dst dst dst.  Tapi disinilah aku, berusaha membuat para konselee berpikir seribu kali lagi untuk menempuh keputusan pendinya.

Aku harus memastikan benar-benar mereka dan keluarganya akan baik-baik saja.  Bagi yang berencana menjadi pengusaha, aku kejar penjelasan mereka hingga ke detil-detilnya.  Rata-rata mereka mengatakan hal-hal yang umum dulu, seperti ‘menjadi pengusaha perikanan’, ‘berusaha di bidang retail’, ‘membuka bengkel’, membeli obligasi ORI (dan memakan bunganya), bikin kos2an, membuka toko (bukan ngerampok!) dll.

Bagi yang bisa memberikan penjelasan detil mengenai seluk beluk pemasarannya, hitung-hitungan rencana pembagian uang pesangon, tingkat harga pasar saat ini, ongkos produksi/operasional usaha, tingkat keuntungan yang bisa didapat, orang yang diajak kerjasama siapa dan sebagainya, kuanggap sudah bisa dilepas.  Tapi bagi yang gagap menghadapi pertanyaan2 ini, dalam hati aku was-was juga.  Karena dari statistik 80% karyawan TLKM yang ikut pendi, yang tidak bisa merubah gaya hidupnya dan keluarganya semasa masih menjadi karyawan,  gagal menjadi pengusaha sukses, dan bahkan ada yang kembali ke perusahaan mohon dijadikan Tenaga Lepas Harian, atau berjualan pisau dan sandal jepit ke mantan teman2 kantornya.  Ini cerita nyata.  Namun rata-rata keukeuh ingin diluluskan.

Bagi yang bercerita punya rencana untuk mendaftar sebagai karyawan di perusahaan kompetitor, aku langsung menuliskannya di berkas konseling.  Biar KPDN yang memutuskan diluluskan atau tidak.  Resiko terbesar dari program ini adalah kebocoran rahasia perusahaan.   Ini juga cerita nyata:  pensiun dini dari TLKM sebagai officer, masuk ke E**A  atau X*  sebagai manager.  Ah… no comment.

Cerita ini jadi terlalu panjang.  Aku harus cut dengan pemikiran ini :  saat ini aku menjadi konselor.  Siapa tahu, suatu saat malah aku yang menjadi konselee.

 

http://cerita-konselor-pensiun-dini/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: